https://1.bp.blogspot.com/-WI1cHtLg5Xg/W6L65va5O5I/AAAAAAAAXHY/ow5NKwqp2WwCAmpkIz4yVmTQN1QOEx65ACLcBGAs/s1600/madrasah%2Bhebat.png

Breaking News

Hidup Berkah dengan Mentaati dan Mematuhi Orang Tua dan Guru


 HIDUP BERKAH DENGAN MENTAATI DAN MEMATUHI ORANG TUA DAN GURU
Sahabat MgmpMAdrasah, Sebenarnya orang tua itu ada tiga, yaitu: pertama adalah orang yang menyebabkan kita lahir, yaitu ayah dan ibu, kedua adalah orang yang mengajari kita berbagai ilmu pengetahuan, yaitu guru-guru kita baik guru yang mengajari kita pada saat kita masih kecil atau yang mengajari kita pada saat sudah dewasa. Biasanya guru disebut orang tua rohani. Ketiga adalah orang yang menyebabkan pasangan kita lahir, yaitu Bapak dan ibu mertua.  Ketiga orang tua tersebut wajib kita hormati karena jasa-jasanya yang sangat besar.
Banyak kejadian nyata yang kita saksikan di sekitar bahwa banyak orang yang sukses dalam kehidupan dunia dan akhiratnya dikarenakan hormat dan taatnya mereka kepada orang tua. Demikian juga banyak kisah yang menyebutkan bahwa kedurhakaan kepada orang tua mengakibatkan kesengsaraan dalam hidup.
Sebagai seorang muslim tentu kita tidak ada yang menginginkan untuk sengsara di dunia terlebih lagi di akhirat. Kita selalu menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana do’a kita setiap hari.
Kita harus menghormati, menaati dan berbakti kepada orang tua. Orang tua tentu bukan hanya orang yang melahirkan kita tetapi juga orang yang mendidik kita, guru-guru kita, dan orang yang anaknya kita nikahi, mertua kita kelak ketika sudah menikah. 


1.  QS. al-Isra’ [17]: 23 – 24
Sebelum kita memahami secara lebih mendalam tentang kandungannya, marilah kita baca dengan baik dan benar QS. al-Isra’ [17]: 23-24 berikut ini.
a. Terjemah ayat
23.“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
24. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. al-Isra[17]: 23 – 24)

b. Penjelasan QS. al-Isra’ [17]: 23 – 24
Surat Al-Isra' ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan berkarakter, yang didefinisikan sebagai satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lain atau dengan kata lain karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral, budi pekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Akhlak dan adab sumbernya adalah wahyu yakni berupa Al-Qur’an dan Sunah. Sedangkan budi pekerti, moral, dan sopan santun sumbernya adalah filsafat.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kandungan ayat ini juga menunjukkan betapa kaum muslimin memiliki kedudukan yang sangat tinggi dibanding dengan kaum yang mempersekutukan Allah SWT.. Ayat ini juga menjelaskan tentang ihsan (bakti)  kepada orang tua yang diperintahkan agama Islam adalah bersikap sopan kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang senang terhadap kita, serta mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan kita (sebagai anak).
Dalam Tafsir Ibnu Kafir dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Selanjutnya perintah berbakti kepada orang tua. Yakni memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada ibu bapak, dan janganlah kita mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada keduanya, sehingga kata-kata “ah” pun yang merupakan kata-kata buruk yang paling ringan tidak diperbolehkan. Janganlah pula  bersikap buruk kepada mereka, seperti yang dikatakan oleh Ata Ibnu Rabah  sehubungan dengan arti surah tersebut "dan janganlah kamu membentak mereka"  maksudnya jangnlah kamu menolakkan tangan kepada keduanya.
Setelah melarang mengeluarkan perkataan dan melakukan perbuatan buruk terhadap kedua orang tua, Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan bertutur sapa baik terhadap kedua orang tua, serta berlaku sopan santun kepada keduanya dengan rasa penuh hormat dan memuliakannya.
Dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ayat-ayat diatas memberi tuntunan kepada anak agar berbakti kepada kedua orang tua secara bertahap. Dimulai dengan janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”. Lalu dilanjutkan dengan mengucapkan kata-kata yang mulia. Ini lebih tinggi tingkatannya dari tuntunan pertama karena mengandung pesan penghormatan dan pengagungan melalui ucapan. Selanjutnya meningkat lagi dengan perintah untuk berperilaku yang menggambarkan  kasih sayang sekaligus kerendahan di hadapan kedua orang tua. Perilaku yang lahir dari rasa kasih sayang yang menjadikan mata sang anak tidak lepas dari orang tua. Yakni selalu meperhatikan dan memenuhi keinginan orang tuanya. akhirnya sang anak dituntut untuk mendoakan orang tua sambil mengingat jasa-jasa mereka terlebih saat kita kecil.
2.  QS. Luqman [31]: 13 – 17

a. Terjemah ayat
13.  Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
14.     Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.
15.     Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16.     (Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
17.     Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS. Luqman [31]: 13 – 17)

b. Penjelasan QS. Luqman [31]: 13 – 17
Ayat 13 surah Luqman ini menjelaskan bahwa syarat untuk mendidik anak hendaknya dilandasi dengan lemah lembut dan kasih sayang.  Kata ‘izuhu terambil dari kata wa’zh yaitu nasihat meyangkut berbagai kebajikan dengan cara menyentuh hati, penyampaiannya yakni dengan lemah lembut, tidak membentak, dan panggilan sayang pada anak. Kata bunayya menggambarkan patron kemungilan yang mengisyaratkan kasih sayang.  Hal ini tentunya juga berlaku kepada para pendidik (guru) dalam mendidik para peserta didiknya.
Dalam ayat 14 Allah menggambarkan kesusahan seorang ibu dalam merawat anaknya, mengapa hanya jasa ibu yang digambarkan dengan sedemikian lemahnya? Karena peranan ibu lebih berat dari ayah, mulai dari proses mengandung, hingga melahirkan dan menyapihnya.
Kata wahnan berarti kelemahan atau kerapuhan. Yang dimaksud di sini adalah ibu sangat lemah saat mengandung.
Ayat 15 surah Luqman menjelaskan tentang larangan taat kepada orang tua dalam mendurhakai Allah Swt., dan nasihat Luqman kepada anaknya tentang menolak segala bentuk kemusyrikan di manapun berada. Ayat ini sekaligus memberitahu bahwa mempergauli keduanya dengan baik hanya dalam urusan dunia, bukan keagamaan. Seperti Nabi Ibrahim as, dia tetap berlaku santun kepada bapaknya sekalipun pembuat berhala, namun Nabi Ibrahim tidak sependapat dalam hal aqidah.
Dalam ayat 16 surah Luqman terdapat kata Latif, yang artinya lembut, halus, atau kecil. Dari makna ini lahirlah makna ketersembunyian dan ketelitian. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa yang berhak menyandang sifat ini hanyalah yang mengetahui perincian kemashlahatan dan seluk beluk rahasianya. Yang kecil dan halus, kemudian menempuh jalan untuk menyampaikannya dengan lembut dan bukan kekerasan. Yaitu Allah, karena dia selalu menghendaki kemaslahatan untuk makhluk-Nya. Ayat ini menggambarkan kekuasaan Allah Swt.. dalam menghitung amal manusia betapapun sedikitnya.
Ayat 17 menjelaskan tentang amar ma’ruf nahi munkar, yang puncak dan  pangkalnya adalah shalat, serta amal kebaikan yang tercermin adalah buah dari shalat yang dilaksanakan dengan benar. Kata ‘azm dari segi bahasa berarti kekuatan hati atau tekad.
3.  Hadis
a. Hadis Riwayat Muslim
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ.(رواه مسلم)
    Terjemah Hadis
 “dari Abu Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda: "Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!" lalu beliau ditanya; "Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?" Jawab Nabi Saw.: "Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya)." (HR. Muslim)
b. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim
سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ. (رواه البخاري ومسلم)
Terjemah
“Aku mendengar 'Abdullah bin 'Amru radliallahu 'anhuma berkata: "Datang seorang laki-laki kepada Nabi Saw. lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka Beliau bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab: "Iya". Maka Beliau berkata: "Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti).” (HR. Bukhari dan Muslim)
c. Penjelasan Hadis
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim tersebut, dijelaskan bahwa seseorang akan celaka ketika tidak berbakti kepada orang tua. Kata “Dia celaka” (رَغِمَ أَنْفُ) diulang-ulang oleh Rasul Saw sebanyak tiga kali menunjukkan bahwa celaka akan benar-benar terjadi kepada seseorang yang tidak berbakti kepada orang tua. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua terlebih lagi ketika kedua orang tua atau salah satu dari mereka masih hidup.
Hadis selanjutnya, riwayat Bukhari dan Muslim, menjelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memiliki nilai pahala yang sangat besar. Bahkan nilai pahala berbakti kepada kedua orang tua oleh Rasulullah saw disamakan dengan nilai pahala jihad, berperang, melawan kaum kafir.

Sebelum kalian menerapkan perilaku menghormati dan mematuhi orang tua dan guru sebagai implementasi QS. al-Isra[17]: 23-24, Luqman [31]: 13-17, dan hadis Nabi, terlebih dahulu kalian harus membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan surah al-Isra [17]: 23-24 sebagai berikut.
1.      Selalu beribadah kepada Allah Swt. dan tidak menyekutukan Dia.
2.      Membiasakan berbuat baik (ihsan) kepada kedua orang tua.
3.      Membiasakan untuk tidak berkata-kata buruk kepada kedua orang tua.
4.      Selalu bersikap baik kepada kedua orang tua, serta berlaku sopan santun kepada keduanya dengan rasa penuh hormat dan memuliakannya.
5.      Selalu mendoakan orang tua sebagai ungkapan terima kasih seorang anak.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan surah Luqman [31]: 13-17 sebagai berikut.
1.      Selalu mengesakan Allah Swt. dan tidak menyekutukan-Nya dengan dengan sesuatupun
2.      Selalu berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ibu, karena ia telah mengandung kita dalam kepayahan, melahirkan, merawat dan mendidik kita sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka.
3.      Membiasakan diri untuk berbuat baik dan menaati orang tua sepanjang tidak untuk maksiat kepada Allah dan menyekutukan-Nya.
4.      Selalu berbuat baik, karena sekecil apapun perbuatan kita, baik maupun jelek, pasti akan mendapat balasan dari Allah Swt..
5.      Senantiasa menjalankan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, dan bersabar.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan hadis Nabi saw sebagai berikut.
1.      Selalu berbakti kepada orang tua terutama ketika mereka masih hidup, jika sudah tiadapun kita harus senantiasa mendo’akan mereka.
2.      Senantiasa berbakti kepada kedua orang tua karena nilai kebaikannya di sisi Allah Swt. disejajarkan deng jihad.
Di samping kita berkewajiban berbakti kepada orang tua, kita juga berkewajiban bersikap hormat dan patuh kepada guru. Kenapa kita harus patuh kepada Bapak/ibu guru? Jasa guru sangat besar bagi murid dan masyarakat, bahkan bagi kemajuan bangsa dan negara. Kita tidak akan menjadi pintar tanpa bimbingan guru. Lebih dari itu tugas guru tidak hanya memberikan pelajaran dalam berbagai ilmu pengetahuan kepada muridnya, tetapi juga bertugas mendidik mereka, agar menjadi manusia yang baik yang sehat jasmani dan rohani. Dan kelak diharapkan agar mereka menjadi warga negara yang baik, luhur budinya, cinta kepada tanah air dan bangsanya
Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhai Allah ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.
Untuk lebih mengingat dalil tentang menghormati dan mematuhi orang tua dan guru, kalian harus menghafal surah al-Isra[17]: 23-24, Luqman [31]: 13-17, dan hadis dengan baik dan benar.
Sudahkah kalian memiliki perilaku seperti di atas? Apabila kalian belum memiliki, maka mulai saat ini cobalah banyak membaca, menghafal, belajar, dan berlatih.
Setelah kalian mendalami materi maka selanjutnya lakukanlah diskusi  dengan teman sebangkumu atau dengan kelompokmu, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas.
1.      Kandungan surah al-Isra [17]: 23-24 meliputi:
·         Perintah untuk menyembah Allah Swt. dan tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu.
·         Perintah berbuat baik kepada kedua orang tua
·         Perintah untuk bertutur kata, bersikap baik, dan berperilaku sopan santun kepada orang tua
·         Perintah untuk selalu mendoakan orang tua
2.      Kandungan surah Luqman [31]: 13-17 meliputi:
·         Perintah untuk mengesakan Allah, tidak menyekutukan-Nya
·         Perintah berbuat baik kepada orang tua terutama kepada ibu
·         Perintah menaati orang tua sepanjang tidak untuk maksiat dan menyekutukan Allah.
·         Perintah untuk berbuat baik.
·         Perintah menjalankan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, dan bersabar
3.      Kandungan hadis meliputi perintah untuk senantiasa berbuat baik kepada orang tua, karena nilai kebaikannya sejajar dengan jihad.
4.      Selalu menghormati dan menaati guru sebagaimana menghormati dan menaati orang tua.


Latihan Soal:
1.      Jelaskan siapa saja yang harus kita hormati dan taati?
2.      Mengapa kita harus menghormati dan menaati orang tua?
3.      Jelaskan kandungan QS. Al-Isra’: 23-24!
4.      Tunjukkan perilaku yang mencerminkan pengamalan QS. Al-Isra: 23-24!
5.      Tulislah dalil Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk menghormati dan menaati orang tua!











Tidak ada komentar